Saat dia mengatur hidupku, mungkin aku lupa, saat hidupku porak poranda...
saat tak ada teman untuk berbagi...
saat seisi dunia seolah memusuhiku, dia yang ada disana membenahinya. memutar segalanya, dan menjadikan aku lebih baik.
Saat dia tak ingin lagi mendengar kata-kataku, mungkin aku lupa bahwa dulu dua telinganya tersedia buatku,
bahkan setiap saat, hanya untuk mendengar masalahku, kadang masalah keluargaku, tanpa kusadari saat itu mungkin dia yang ingin didengar.
Saat dia tak lagi menghargai perasaanku, aku lupa bahwa dulu aku selalu menganggap remeh dia, aku yang tak bisa mempercayai dia, bahwa kadang kata kata yang keluar dari mulutku, mulut teman-temanku bahkan keluargaku tentang dia menyakiti hatinya. Tapi dia DIAM, karena dia lebih menghargai perasaanku.
Saat dia mengkritikku, aku lupa bahwa dulu dia yang selalu membanggakanku didepan semua orang, bahwa dia ingin aku menjadi lebih baik dari sekarang.
Ironis memang....
aku tidak pernah menyadari bahwa aku menyakiti, menyalahkan, bahkan melupakan orang yang berbuat banyak terhadapku meski dia tak selalu ada di dekatku.

0 komentar:
Posting Komentar
Gue perlu celaan disini..