>

Senin, 12 Oktober 2009

No Place Like Home


Gorontalo.. Kota kecil yang sedang menggeliat. Mencoba berkembang menuju kota yang mandiri. Dan yang paling penting, bisa memakmurkan seluruh penduduknya. Disini di kota ini, banyak yang bisa kuperoleh. Banyak cerita yang bisa kuingat. Banyak peristiwa yang bisa kuceritakan lagi kepada yang lainnya kelak.
Namun ada juga kesulitan yang bisa kuperoleh. Kesulitan jaringan telekomunikasi seluler, atau apalah sebutannya.
Jika anda ingin mendapatkan tulisan 3G di hape anda, maka anda harus menyempatkan diri pergi ke areal seperti gambar di samping ini. Jika tidak, maka saya jamin anda akan mengalami kesulitan untuk mendapatkannya di tempat lain.
Tapi jika anda tidak begitu membutuhkan jaringan 3G, maka masihlah mudah untuk mencarinya..
Ingat kota ini.. Ingat pula sahabat, ingat jalanannya yang kecil nan lenggang, ingat dialek yang khas, ingat kesusahan sewaktu mencari pertamax/premix, ingat teriknya matahari, ingat keluarga, ingat motor - motor ABG yang sudah abis dimodifikasi hingga keluar dari bentuk aslinya, ingat "keramahtamahan" polisi, ingat bentor, ingat semua hal yang ada unsur baik maupun unsur buruknya (ga nyambung).
Ah Gorontalo sangat mempesona bagiku. Walaupun gedung pencakar langit belum ada disana (tak seperti di jakarta), tapi itulah rumahku. Itulah tempat kelahiranku. Tempat ku dibesarkan. Tempat keluargaku hidup dan berkembang biak beranak pinak, tempat kau yang berada disana mencari ilmu, tempat teman - temanku menghilangkan kesadaran mereka, tempat orang tua yang suka ikut campur berusaha mencari kesalahan para anak muda, tempat para geng motor berkonvoi ria dengan tampang sangar terkesan baraba, tempat bentor mengacaukan arus lalu lintas, tempat yang traffic lightnya sering mati (entah untuk menghemat atau apa tujuannya), tempat angkutan kota tergusur oleh transportasi umum lainnya, tempat yang sedang tergila - gila dengan Internet, tempat yang ikut terkontaminasi wabah facebook, tempat bersenda gurau di perempatan, tempat dimana pos kamling bisa dirobah menjadi rumah, tempat motor matic sedang giat - giatnya berkembang, tempat yang sebagian besar warganya sangat menyukai sayur kangkung (termasuk saya), dan juga tempat yang berbeda dari yang lainnya.

Namun, pendapat berbeda diutarakan oleh salah seorang teman sebut saja namanya Adi Asep (Bukan nama sebenarnya). Dia adalah lulusan sebuah universitas di Kota Kembang. Begitu menginjakkan kakinya di bandara Jalaludin, kesan pertama yang muncul di benaknya adalah "Panas sekali kota ini", meskipun dia adalah bujang kelahiran Gorontalo juga...!!(Halamaakk..)
Setelah hampir sebulan dia di Gorontalo, kamipun bertemu. Dengan nada curhat dia berkata "Saya tidak akan lama disini. Saya mau balek lagi ke Bandung. Saya bisa mati kesepian disini. Tidak ada kehidupan disini.. Arggghhhhh...!!" Sehingga dapat dicapailah kesimpulan bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan laju perkembangan pertiwiku ini.
Tapi apa yang kurasakan sangatlah berbeda dengan apa yang dia rasakan. Pohon kelapa yang terlihat sejauh mata memandang, justru memberikan kesan yang damai lagi sentosa. Bahkan inginku berlama - lama disana. Serasa ingin tinggal disana saja. Ingin meninggalkan ibukota negara yang sangat kejam ini. Waktu 1 minggu 4 hari itu sangatlah tidak cukup untuk mengganti rasa penasaran akan kotaku selama hampir satu tahun (we want more.. We want more..). Apalah daya, mau tak mau harus juga kembali ke Jakarta.
Di pagi hari, selama perjalanan dari rumah ke bandara, kusempatkan melihat2 kembali pemandangan yang takkan terlihat jika sudah berada di Jakarta. Jalanan yang sangat lenggang, udara pagi yang segar, hawa dingin yang menusuk, bentangan sawah yang seakan tak ada habisnya. Tak henti - hentinya menggumam "Tahun depan kita ketemu lagi.. Tahun depan kita bercanda lagi.."

Akhirnya, ketika tiba waktunya untuk masuk ke pesawat, kusempatkan untuk menghirup dalam - dalam udara segar nan dingin sembari memandang ke sekeliling. Ah... Kotaku..
No Place Like Home lah...






0 komentar:

Posting Komentar

Gue perlu celaan disini..