>

Senin, 05 Oktober 2009

Distance and The Moonlite

(Menghela napas dalam - dalam)..
Masih tertegun..
Menyeka peluh...
Menaruh jari di keyboard..
Mulai mengetik...

Semalam, ketika tubuh ini tak bisa diajak untuk beristirahat. Akupun keluar sejenak dari kamar sempit nan pengap untuk menghirup udara segar, walaupun semua orang tahu tak ada udara segar di kota ini..:getok:
Terbatuk - batuk aku di luar kamar..
Tersendat - sendat nafasku. Memburu satu demi satu, menghasilkan suara sumbang nan menyakitkan dada. Mencoba berhenti namun tak bisa. Ah.. Ini bukan kecanduan, ini penyakit yang paling terbenci.
Itu belum seberapa, ketika sedang tersengal - sengal, tubuh pun mencoba menstabilkan diri lagi. Ketika menelan (maaf) lud*h, seketika terasa nyeri yang amat sangat di barisan geraham sebelah kanan. Dhengggg.....!!! Sakit.. Sakit.. Sakit.. Lengkap sudah semua segala penderitaan ini...(menghela nafas lagi)


Setelah dipikir - pikir, ternyata tidak semua yang dialami semalam itu menyakitkan. Setidaknya ada terkandung 0,05 % hikmah yang bisa membuat pikiran ini tersadar. Ternyata setelah ditelusuri lebih dalam, aku dan dirinya sekarang tengah berpijak dan berdiri di daratan yang berbeda (meski saat itu dia mungkin sedang rebahan). Kita terpisah jarak yang sangat - sangat jauh. Kita terpaut jarak 3 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat jet jenis boeing 737-900ER yang rata rata kecepatannya kurang lebih 900km/jam dengan daya jelajah 35.000 kaki di atas permukaan laut. Lah lah... Dengan pesawat sebesar itu saja kita harus berkendara dalam waktu 3jam.. Sungguh jarak yang sangat jauh apabila ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dengan kemampuan ampibi (untuk menyeberangi lautan).
Tapi tak apalah. Selama malam masih tetap menjelang setelah penatnya siang hari, kita masih tetap bisa melihat "Bulan Yang Sama". Kau disana melihat bulan, akupun disini melihat bulan. Seakan tak ada artinya jarak yang sedemikian jauh itu..

(Tersenyum lega)..
Akhirnya bisa mengentri tulisan lagi. Setelah sekian lama vakum akibat kemalasan yang timbul dari hati yang terdalam. Mudah - Mudahan kau bisa membacanya. Hingga kau tahu, kalo akupun merasakan hal yang sama denganmu...



Akhirnya malam itu terlewatkan dengan tenang. Meskipun suara batuk itu sangat mengganggu kesendirianku, tapi toh aku bisa tidur dengan nyenyak. Maafkan diriku yang sudah lancang tidak memberi kabar. Mengertilah.....


0 komentar:

Posting Komentar

Gue perlu celaan disini..